Koran Warta Bali - Hujan Gerimis Iringi Pelebon Paranacita | Rabu, 17 Januari 2007
Rabu, 17 Januari 2007
Halaman Depan : UTAMA

Versi Text-Printer  Email Artikel Ini 
[Edisi : , ]

Hujan Gerimis Iringi Pelebon Paranacita


Baris Ketekok Jago- Melepas ritual palebon AAN Putu Paranacita di Setra Badung kemarin. (foto: joko sugianto)

_____Berita Yang Lain_____
  • Mega: Kembalikan Rapelan!
  • Hanya Modal Tekad
  • Rayakan Siwalatri Dengan Abhiseka Linggam
  • Tabrakan Beruntun, Dua Tewas di Tempat
Oleh mus

DENPASAR (WARTA BALI) - Jumat (21/11) kemarin, sekitar pukul 13.00 wita setra (kuburan) Badung yang biasanya sunyi, dibanjiri ribuan kerabat dan abdi puri guna mengikuti prosesi polebon AAN Putu Paranacita. Begitupun sejak awal keberangkatan bade dan lembu dari Puri Pemecutan menuju setra, menjadi perhatian masyarakat sekitar yang rela berdesak-desakan untuk menyaksikan iringan tersebut. Tak sedikit para wisatawan asing yang mengikuti prosesi pelebon dari awal hingga akhir.
Tepat pukul 14.00 wita, ketika api mulai dinyalakan membakar jenazah yang sudah berada di dalam lembu, 12 personel Baris Ketekok Jago beraksi. Dengan memegang tombak, mereka menunjukkan kebolehannya dalam tarian sakral yang sangat jarang kita saksikan. Bentuk gelung kepala sama seperti tarian baris pada umumnya, hanya dikombinasikan dengan kain poleng dan memakai 3 bunga pucuk. Pakaiannyapun relatif sederhana dengan dominasi warna putih dan poleng. Menurut Ida Ayu Kompyang Agung, tarian dimaksud sebagai pagar gaib dari gangguan ‘citra bala’ (penjaga kuburan-red). “Dengan tarian ini diharapkan konsentrasi ‘citra bala’ terpecah dengan diberikan suguhan segehan oleh para penari, sehingga ruh bisa masuk dengan tenang ke alamnya,” jelas Dayu Kompyang yang turut mendampingi Ida Pedanda Raka Kelaci selaku pemuput karya.
Adat dan budaya puri yang masih kental juga terlihat dari sejak awal keberangkatan iring-iringan. Ratusan wanita berkostum ‘lelunakan’ ( pakaian daerah Badung) dari Banjar Alangkajeng Menak turut bernapak tilas dari puri menuju setra dengan mengusung sarana upacara. Begitupun ‘gegayotan’ (tandu) yang mengusung 2 wakil putri Puri Pemecutan yang ikut mengiringi jenazah menuju setra.
Sebelum prosesi dimulai, setelah layon (jenazah-red) diturunkan dari Bale Marda dan mandapat pengaksama kerabat puri, Ketua Warga Ageng Puri Pemecutan AAN Rai Sudarma, SH, menyampaikan permohonan maaf atas segala sesuatu yang pernah dilakukan almarhum semasa hidupnya. “Jika ada hal-hal yang kurang berkenan, saya sampaikan permohonan maaf, “kata Sudarma.
Saat pelebonan berlangsung, sempat terjadi hujan gerimis sebelum upacara pembakaran. Namun tak sampai turun hujan lebat. Gerimisnya hujan sempat membuyarkan acara sejenak, karena para pengantar berteduh ke dua buah tenda yang disediakan. Bagi umat Hindu, turunnya hujan, katanya pertanda baik dan proses upacara direstui Ida Sang Hyang Widi Wasa. (mus)
Kirim Artikel ke Email
Alamat Email
Pesan Anda
CARI:

CARI DI WEB:


Tentang WARTABALI.com | Harga Iklan WARTABALI | Set Sebagai Home Page

Keyword e.g. : bali, ubud, bali hotel, etc.



© Hak Cipta 2012 wartabali.com | web oleh Bali Hotel & Bali Villa| hosting oleh abltech.com | Tanaya Bed & Breakfast | Pita Maha
Ke Atas