|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
[Edisi : Kamis, 15 Januari 2004]
Hujan, Tak Kurangi Makna Galungan
|

Khusuk. Umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan dengan sembayang di Pura Jagatnatha dengan suasana khusuk. (foto:miftahuddin)
|
Oleh jay
DENPASAR (WARTA BALI) - Selama lebih dari enam jam, kota Denpasar dan sekitarnya diguyur hujan justru tepat pada saat sebagian besar warganya merayakan Hari Raya Galungan, Rabu (14/1). Hujan rintik-rintik dimulai saat pk. 07.00 dan makin deras menjelang tengah hari di Pura Jagatnatha Denpasar. Namun hujan tidak mengurangi minat bersembahyang umat Hindu untuk ke Pura Jagatnatha. Hujan juga turun di Griya Tanah Kilap, Pura Uluwatu dan Candi Narmada, Kuta. Namun, hujan seperti tidak merata di berbagai pura itu.
Dalam pantauan WARTA BALI, umat Hindu mulai ramai memasuki pelataran pura Jagatnatha saat selepas pk. 09.00 wita. Kehadiran umat Hindu yang bersembahyang tidak sampai meluber ke areal pura. Demikian pula dengan Pura Tanah Kilap, Kuta. Umat Hindu yang tangkil untuk melakukan persembahyangan sudah semenjak malah datang, Selasa (13/1). Angka pengunjung yang datang bisa dibilang rata-rata dan tidak sampai menyesakkan jalan yang ada di depannya.
Seorang pemedek dari Pedungan menyebutkan, dirinya telah melakukan persembahyangan di pura keluarga sebelum dirinya sembahyang ke Pura Jagatnatha ini. “Kalau sembahyang di rumah itu sudah wajib hukumnya,” kata Nyoman Wija. Menurutnya, keadaan di pelataran Pura Jagatnatha lebih sedikit bila dibandingkan dengan suasana persembahyangan bulan purnama. “Maklum, biasanya orang sembahyang dulu di rumah baru kemudian sembahyang di tempat umum,” ujarnya. jay
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
|