|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
[Edisi : Rabu, 28 Januari 2004]
Panas-panasan Tolak Pemilu
|

Happening Art. PRD Bali menggelar demo menolak pemilu 2004 di kantor KPU Bali kemarin. Pentas Happening Art mengakhiri aksi yang dilakukan sekitar 30 aktivis PRD itu. (foto: miftahuddin)
|
Oleh gus
DENPASAR (WARTA BALI) - Partai Rakyat Demokratik Bali di bawah pimpinannya Wayan Agus Januraka, Selasa (27/1) kemarin seolah tak menghiraukan teriknya sinar mentari. Mereka yang membawa sekitar 30 kadernya, mendatangi gedung KPU Bali. Tuntutannya satu, menolak pemilu 2004. Pasalnya, mereka beranggapan pemilu dilaksanakan oleh sistem dan penguasa Orde Baru, dan pesertanya pun dianggap mewakili kekuatan Orde Baru.
Dalam aksinya kali ini, mereka membawa berbagai spanduk dan pamflet, seperti: ‘Bukan Pemilu, Tetapi Kekuasaan Oleh Rakyat, Reformasi Tanpa TNI, Rakyat Butuh Makan, Bukan Pemilu, dll.
Secara bergiliran mereka melakukan orasi sejak pukul 14.00 wita. Untuk mendramatisir aksi, mereka menggelar happening art, berupa drama tari kekecewaan rakyat terhadap elitnya yang asyik berpidato soal pemilu.
Dalam aksi kali ini, aparat keamanan baik intel maupun reserse cukup banyak dikerahkan. Bahkan, terkesan penonton dan aparat yang lebih banyak hadir daripada pendemo. Usai membacakan pernyataan sikap, mereka pun membubarkan diri, tanpa menyerahkan pernyataan itu kepada KPU Bali. Padahal, kala itu Ketua KPU Oka Wisnumurti sibuk melayani siswa yang ingin melakukan sosialisasi pemilu. gus
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
|