|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
[Edisi : Jumat, 6 Februari 2004]
Tolak Pemilu, Mahasiswa Kembali ke Jalan
|

Demo Tolak Pemilu. Aktivis LMND menggelar demo menolak Pemilu di perempatan Sudirman-Dewi Sartika, kemarin. (foto: miftahuddin)

Demo Tolak Pemilu. Aktivis LMND menggelar demo menolak Pemilu di perempatan Sudirman-Dewi Sartika, kemarin. (foto: miftahuddin)
|
Oleh lit
DENPASAR (WARTA BALI) –“37 tahun rakyat dibodohi, 37 tahun rakyat ditindas. Hey.. lawan..lawan dan menang, hancurkan rezim penindas rakyat. Tolak pemilu, cabut dwi fungsi bubarkan Orba sekarang juga”.
Sepenggal petikan lagu di atas dinyanyikan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Bali, Kamis (5/2) kemarin, saat melakukan aksi demontrasi penolakan Pemilu 2004.
“Pemilu 2004 bukan solusi kesejahteraan rakyat. Bukan pemilu, tapi pendidikan gratis untuk rakyat. Bukan pemilu, tapi persatuan rakyat untuk berkuasa,” begitu tema yang diusung peserta aksi. Partai-partai peserta pemilu, baik partai lama yang sudah gagal melaksanakan agenda reformasi, maupun partai baru yang baru merintis, dinilai tidak muncul dengan membawa program-program alternatif, ekonomi maupun politik.
Apalagi pemenang Pemilu 2004 menurut LMND sudah dapat diprediksi adalah 6 partai yang lolos electroral treshold dan gagal menjalankan agenda reformasi. “Program ekonomi dan politik mereka sudah terbukti gagal dijalankan di era transisi saat ini,” teriak Korlap LMND Made Lapunggel. Apalagi hampir 70 % daftar caleg jadi yang disetor oleh partai politik ke KPU adalah muka-muka lama yang berlumuran kejahatan korupsi. Bahkan, mereka dituding sebagai konseptor pemiskinan secara sistimatis bagi rakyat Indonesia, ternyata tanpa malu-malu masih berani mencalonkan diri sebagai pilihan rakyat.
Dengan demikian, LMND menilai bisa dipastikan bahwa Pemilu 2004 tidak akan mampu dan gagal dalam mengusung agenda reformasi yang telah dicetuskan oleh gerakan mahasiswa dan rakyat sebelumnya. lit
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
|