|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
[Edisi : Senin, 8 Desember 2003]
Mega: Stop Suap
|

Hentikan Suap- Presiden Megawati berpidato dalam acara forum United in Diversity di Nusa Dua kemarin. Kepada para pebisnis, Mega menhimbau untuk menghentikan praktek suap. (foto: WartaBali
|
Oleh gus
NUSA DUA (WARTA BALI) - Presiden Megawati Soekarnoputri mengaku sangat menghargai tekad dunia bisnis untuk menghentikan praktik suap yang selama ini demikian marak dalam menjalankan usahanya. Pasalnya, pelaksanaan tekad tersebut dinilai memerlukan persiapan yang sungguh-gsungguh, bukan hanya dalam dimensi moral dan keiwaan, tetapi juga dalam aspek kelembagaan serta prosedur kerja. Megawati menegaskan hal itu dalam pidatonya usai makan siang para peserta pertemuan”United in Diversity Forum” di Nusa Dua Minggu (7/12) kemarin.
Dunia bisnis diharapkan dapat mengadakan reformasi diri ke dalam, sedemikian rupa sehingga kebiasaan selama ini dapat dihentikan atau distop, setidak-tidaknya dikurangi secara bertahap. Mega juga menilai perlu bagi dunia bisnis untuk memperhitungkan baik-baik lagkah yang diperlukan untuk menghadapi resistensi dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh praktik suap tersebut, baik dari kalangan bisnis sendiri maupun dari kalangan jajaran birokrasi pemerintahan.
Mega mengaku memahami bahwa tanggungjawab tersebut tidak dapat dilimpahkan kepada dunia bisnis saja. Sebagian tanggung jawab tersebut, tambahnya, harusnya dipikul oleh jajaran penyelenggara negara, baik dalam legislative, eksekutif dan yudikatif. Dengan begitu, hukum dapat dibentuk, dilaksanakan serta ditegakkan dengan selurus-lurusnya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya tanpa pandang bulu.
Masyarakat Indonesia, jelas Mega, harus mengakui bahwa para pengelola kehidupan kebangsaan dalam wadah negara kesatuan tersebut tidak selalu secara jujur memenuhi amanah kesejarahan dan kewajiban konstitusional yang dipercayakan kepadanya. Di masa lampau, berbagai wujud penyimpangan yang bersumber pada wawasan kenegaraan yang terlalu sentralistis tanpa disertai pengawasan rakyat yang efektif, cenderung mudah mengalami degradasi ke arah otoritarianisme.
Dalam dasawarsa-dasawarsa terakhir pra reformasi, lanjutnya, kecenderungan otoritarianisme itu diiringi pula oleh berbagai bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme. Sampai pada taraf tertentu, kecenderungan itu masih berlanjut dalam tatanan baru paska reformasi yang sedang dibangun dewasa ini.
Kehadiran Megawati sendiri ke Forum United in Diversity tidak membuka acara, karena acara telah dibuka pagi sebelumnya oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono. Mega hadir sambil makan siang bersama seluruh peserta yang dihadiri para tokoh bisnis, pemerintah dan swasta dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Usai makan siang itulah, Mega menyampaikan pidatonya secara khusus mengenai berbagai persoalan di Indonesia. Karenanya, Mega berharap pertemuan tersebut bisa menghasilkan pijakan awal bagi pemerintah dalam membuat kebijakan di masyarakat.
Pimpinan United in Diversity Frans Seda menyatakan, melalui pertemuan ini diharapkan bisa diambil hikmah dan pengalaman sejumlah tokoh-tokoh internasional dalam pemikirannya, guna memulihkan semua sektor kehidupan di Indonesia. Dia menyebut bagaimana Yugoslavia dan Rusia yang begitu cepat bisa menyelesaikan persoalan internal bangsanya.
Selain Mega, forum juga diisi dengan pidato tokoh lainnya seperti mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Menko Perekonomian Dorojatun Kuntjoro Jakti, Prof. Lester Thurrow dari AS, dan sejumlah tokoh internasional. gus
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
|